Redaksi Media (@fakta_banten)

Masyumi awal kebangkitan politik Islam di Indonesia
#masyumi #islambangkit #faktabanten

MELAWAN ARUS (@melawanadalahkunci)

Tan Malaka membuka identitas aslinya pertama kali kepada Soebarjo, temannya di Belanda saat masih sekolah. Dari Soebardjo Tan Malakakemudian mendapat jalan untuk bertemu Soekarno .
Saat itu, Bung Karno mendapat informasi soal keberadaan Tan Malaka di Jakarta.Bung Karno lantas menugaskan sekretaris pribadinya, Sajoeti Melik untuk mencariTan Malaka dan mempertemukannya dengan Bung Karno .Dalam buku 'Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia' Karya Harry A Poeze pertemuan antara Tan Malaka dengan Bung Karno terjadi pada 9 September. Pertemuan itu terjadi di rumah kediaman dokter pribadi Soekarno , dr Soeharto , di Jalan Kramat Raya No 82, Jakarta.Pertemuan itu digelar secara rahasia. Sebab, saat itu polisi rahasia Jepang, Kempetai, sudah mengetahui jejak rekam Tan Malaka sebagai seorang pejuang. Bung Karnolantas meminta dr Soeharto merahasiakan pertemuan itu. Kepada dr Soeharto , Tan Malaka juga mengaku sebagai Abdul Razak dari Kalimantan. Saking rahasianya, pertemuan bahkan digelar dalam kondisi gelap. Lampu penerangan di kamar pertemuan sengaja dipadamkan.Pertemuan antara Bapak Republik Indonesia dengan sang Proklamator pun berlangsung. Bung Karno menanyakan sejumlah hal mengenai pemikiran Tan Malaka dalam buku-bukunya seperti Massa Aksi, yang sangat berpengaruh pada pemikiran politik Soekarno . Tan Malaka pun menjawabnya dengan lugas.Dalam pembicaraan itu Tan Malaka lebih banyak bicara menerangkan soal nasib Revolusi Indonesia. Sementara Bung Karno mendengarkan 'khutbah' dari sang revolusioner. Tan menjelaskan kepada Bung Karno agar pemerintahan dipindahkan ke pedalaman. Orang-orang Belanda dan Inggris harus segera dipulangkan dan Jakarta harus dijadikan medan pertempuran melawan pasukan Sekutu yang telah menang Perang Dunia II.
Bung Karno tencengang. Gagasan Jakarta harus menjadi medan pertempuran merupakan hal baru baginya. Saking terpesona dan kagumnya, Bung Karno lantas membuat pernyataan Tan Malaka adalah penggantinya kelak."Kalau saja tiada berdaja lagi, maka kelak pimpinan revolusi akan saja serahkan kepada saudara ( Tan Malaka )," kata Bung Karno

Raden Mukhtar Notoadiningrat (@sejarah.ips)

Masyumi (geliat perjuangan ormas islam di masa jepang)

Berdirinya masyumi tidak terlepas dari MIAI organisasi islam yang telah lebih dulu berdiri sekitar tahun 1937. Pada November 1943,  pemerintahan balatentara Jepang mendirikan Madjelis Sjoero Moeslimin Indonesia pengganti MIAI sebagai konfederasi organisasi-organisasi Islam. Fungsi utama organisasi ini, selain menjadi wadah aspirasi umat Islam, tentu saja melayani kepentingan Jepang.
Dalam Partai Masjumi: Antara Godaan Demokrasi & Islam Integral (2013) sejarawan Prancis Remy Madinier menegaskan: “Masjumi menjadi wahana baru bagi Jepang untuk mereorganisasi masyarakat Islam Indonesia agar mendukung kepentingan mereka”
Menurut Harry Benda dalam The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam Under the Japanese Occupation (1985), ada dua jenis keanggotaan dalam Masyumi. Pertama, perkumpulan-perkumpulan Islam yang mendapat status legal dari pemerintah. Kedua, para kiai dan ulama yang mendapat rekomendasi dari Shumubu (Biro Urusan Agama). Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mendapat jatah paling besar dalam Masyumi, karena hanya kedua organisasi itulah yang mendapat izin resmi dari pemerintah. Di samping dua perkumpulan itu, bergabung pula Persatoean Oemmat Islam dan Perikatan Oemmat
Meski terkesan kompak di luar, terutama dalam menyikapi isu-isu sosial dan keagamaan, namun sekat antara kelompok modernis dan tradisionalis masih kentara di dalam Masyumi. Persatuan umat Islam seperti yang dikampanyekan golongan modernis sejak akhir kolonialisme Belanda juga terganjal berbagai kepentingan di internal organisasi.
#masyumi #nu #muhammadiyah

MELAWAN ARUS (@melawanadalahkunci)

Foto Soekarno dan keluarganya yang terdiri dari sang istri(Fatmawati) anak perempuan(Megawati) dan anak laki laki(Guntur) pada 26 Desember 1949.Rasanya saat itu tak ada wanita yang sanggup mengelak dari betapa kerennya Soekarno~

Eko Dariyadi (@ekodariyadi)

Dulu #Masyumi dengan #NU pecah karena perkara ini. Semoga bisa mengambil pelajaran dari sejarah yg singkat. Wallahu a'lam 😊

MELAWAN ARUS (@melawanadalahkunci)

HAJI Misbach seperti meteor: melawan kaum imperialis dengan menggunakan sentimen agama. Dibawanya Islam jadi agama pemberontak. Tak sekedar berontak tapi mengajak petani untuk sadar atas kekuatanya. Tak tak takut melawan aturan kolonial dan tak segan mengutuk kekayaan. Baginya, Islam itu lahir untuk melawan kesewenang-wenangan. Sebagai agama protes, Haji Misbach membawa keyakinan ini dalam sengketa mutakhir: Kapitalisme. Ini tahun 1921, jauh sebelum HTI lahir apalagi NU berdiri. Tahun dimana bisnis perkebunan berlangsung sadis: tanah petani dicaplok untuk kepentingan usaha dagang. Di bawah keyakinan Islam, Haji Misbach meluncurkan pesan pemberontakan. Rakyat tak harus takut dan rakyat jangan patuh.Haji Misbach bukan sosok sembarang. Orang tuanya pengusaha Batik. Tinggal di Kauman Solo. Dididik di Pesantren dengan nama kecil Achmad. Bahasa Arabnya bagus. Hapal banyak surah dan doa. Mula-mula bukan seorang proletar. Mirip Nabi hidupnya: berdagang dan buka toko. Semula kegiatanya sederhana: jualan, mengaji dan dirikan sekolah. Akrab dengan Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Kelak dikritiknya organisasi ini habis-habisan. Sayang kritik-mengkritik itu tak diabadikan oleh film Sang Pencerah. Tapi Haji Misbach bukan Achmad Dahlan. Tak hanya menafsirkan Al Ma’un melainkan juga melibatkan diri dalam kegiatan jurnalis. Sahabatnya agak bahaya tapi menarik: Tjipto Mangunkusumo, Semaoen, Mas Marco, Douwes Dekker dan tentu saja Sneevilt. Di samping suka baca Qur’an juga merenungkan gagasan Karl Marx.

MELAWAN ARUS (@melawanadalahkunci)

Jika pergi ke kampung halaman Tan Malaka di Suliki, Anda bisa temukan banyak nisan kuburan atas nama Tan Malaka. Selain rumah gadang keluarganya yang sederhana tapi masih tegak berdiri, puluhan meter dari rumah tersebut, terhampar kuburan-kuburan Tan Malaka lebih dari satu. Tan Malaka bukan nama kecil. Tan Malaka adalah gelar adat di kampung tersebut. Tan Malaka yang kita kenal sebagai pejuang kemerdekaan yang revolusioner bernama kecil Sutan Ibrahim. Bocah cerdas lulusan Kweekschool Bukittinggi itu di kemudian hari mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan kemerdekaan dengan pelbagai cara, di pelbagai tempat, dengan pelbagai nama alias.Tidak disukai Comintern, berseberangan pendapat dengan Stalin, dimusuhi PKI walaupun menjadi pendirinya, dikejar-kejar polisi dan intel kolonial Inggris maupun Belanda. Tapi yang paling tragis: ia dibunuh oleh orang sebangsanya sendiri, dibunuh justru di masa kemerdekaan yang ia ikut memperjuangkannya dengan penuh seluruh.Tan Malaka tewas ditembak oleh pasukan militer Indonesia tanpa pengadilan di Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, pada 21 Februari 1949. Eksekustornya berasal dari Brigade Sikatan atas perintah petinggi militer Jawa Timur. Tan Malaka dibunuh karena perlawanannya yang konsisten terhadap pemerintah yang bersikap moderat dan penuh kompromi terhadap Belanda. Tapi sebelum diketahui kuburannya, kisah kematian Tan Malaka masih diselubungi misteri. Bahkan lokasi kuburannya pun tidak diketahui persis. Titik terang mulai tampak berkat kegigihan Harry Albert Poeze, sejarawan Belanda yang mengabadikan seluruh karier akademisnya sampai sekarang untuk menulis hayat dan karya Tan Malaka.Harry Poeze menemukan makam Sutan Ibrahim gelar Tan Malaka tersebut sekitar 2007. "Berdasarkan data sejarah, penelitian saya, dan pendapat ahli forensik antropologi sudah jelas bahwa Desa Selopanggung merupakan tempat peristirahatan terakhir Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka,” katanya.
Pihak keluarga besar Tan Malaka pun seyakin dengan Harry Albert Poeze jika jenazah Tan Malaka bersemayam di Selopanggung. Ketika penggalian, kerangkanya dalam keadaan duduk dan terikat

TeropongSenayan.com (@teropong_senayan)

"Kalau Memang saudara merasa tidak perlu berpolitik, biar tidak usah berpolitik. Tetapi saudara Jangan Buta Politik. Kalau saudara buta politik, saudara akan dimakan oleh politik."
-Mohammad Natsir, Legenda Masyumi.

#Masyumi
#Natsir
#Teropongsenayan
#MelekPolitik

ABAYSENTRIS (@andikabaehaqi)

[KERJA KOLEKTIF] membuat infografis partai pemenang pemilu tahun 1955
#PNI
#Masyumi
#NU
#PKI

SUARA RAKYAT MUDA [SuryaMu] 🌟 (@suryamu.id)

.
Kejadian ini dikabarkan terjadi sekitar tahun 1961.. Kala itu sedang terjadi persaingan sengit antara Blok Barat (USA, dkk) dan Blok Timur (US, dkk)..
.
Indonesia yg dipimpin oleh Presiden Ir. Soekarno pun memilih Gerakan Non Blok (GNB).. Akhirnya, terjadilah persaingan antara Blok Barat dan Blok Timur untuk mencuri perhatian Bung Karno dan Indonesia..
.
Uni Soviet pun ingin menunjukkan pada USA bahwa Indonesia kala itu berdiri tepat dibelakangnya.. untuk itu, Nikita Kruschev (PM Uni Soviet 1958-1964) menemui Bung Karno agar Beliau mau berkunjung ke Moskwa..
.
Bung Karno tak mau gegabah mengambil sikap, karna dibawah kepemimpinannya, terdapat nasib jutaan rakyat Indonesia..
Bung Karno pun mengajukan syarat pada Uni Soviet kala itu, yakni agar Pemerintah Uni Soviet menemukan makam Imam Bukhari (seorang prawi Hadist termasyur dalam sejarah Islam)..
.
Dengan usaha yg tak mudah, akhirnya Uni Soviet berhasil menemukan makam tersebut..
.
Bung Karno pun mengiyakan untuk berkunjung ke Moskwa.. Setelah sampai disana, Bung Karno terkejut, karna kondisi makam yg tidak layak.. sehingga Bung Karno pun memerintahkan Uni Soviet agar membangun makam yg lebih layak.. andaikan Uni Soviet tidak sanggup, Bung Karno menyarankan agar makam itu dapat dibawa pulang Bung Karno, agar dirawat di Indonesia..
.
Uni Soviet pun menyanggupi merawatnya dan dibangunlah makam yg lebih layak..
Saat ini, makam tersebut berada di wilayah Uzbekistan (salah satu negara pecahan Uni Soviet)..
.
Hingga sekarang, andaikan ada masyarakat Indonesia yg berziarah ke sana, maka akan lebih dihormati dan diperlakukan khusus..
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Source : YtCrash Islam
https://m.youtube.com/watch?v=-aJ4_X-gcZM
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
#soekarno #bungkarno #imambukhari #unisoviet #kruschev #islam #marhaen #marhaenisme #marxisme #marxist #marxis #sosialisme #komunisme #sosialis #komunis #pni #pki #masyumi #indonesia #usa #sobsi #bti #gmni #hmi #pmii #imm #nu #muhammadiyah #suryamu

IHYA ULUMUDDIN EMGEE (@abuyami43)

Bersama Bang Prof. Yusril Ihza Mahendra dlm acara Seminar Nasional di Ponpes Attaqwa KH Noer Alie. #sejarah #nkri #masyumi #hmindonesia #pii #abuyami #takbiiir

THE B IPS akt 2015-2016👮👸 (@thebips0099)

XII SOCIAL MASYUMI [MA SYAMSUL ULUM KOTA SUKABUMI]
.
.
.
.

#masasma #catatanakhirsekolah #anakips #masyumi #social #XII

MELAWAN ARUS (@melawanadalahkunci)

Siapa yang tergerak oleh analisis-analisis Tan?
Pertama, Sukarno sendiri tentu saja. Lantas, W.R. Supratman, Muhammad Yamin, Adam Malik, untuk menyebut beberapa dari antaranya. Tujuan akhir Tan? Keadilan. Lebih dari apa pun, keadilan yang riil.
Bila akhirnya kita memilih untuk mendepak figurnya dari pemahaman kita tentang sejarah Indonesia—dan mengafirmasi politik-politik ketakutan yang berusaha memanipulasi kita—saya yakin, yang terjadi selanjutnya adalah hantunya kian menggerogoti kita. Selepas kematiannya yang terlalu dini, para pejabat Indonesia yang baru merdeka waktu itu sangat jelas merasa terhantui dengannya. Hatta langsung mencopot Soengkono, Panglima Divisi Jawa Timur, dan Soerahmad, Komandan Batalion Sikatan di Kediri. Sukarno menyandangkan kepada Tan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1963.
Para penentu ini besar dengan membaca pikiran-pikiran Tan Malaka. Ia bukan hanya sudah aktif dalam pergerakan sebelum mereka. Ia adalah sang pendahulu yang mereka hormati. Sukarno tak ragu untuk memandatinya sebagai pimpinan perjuangan bila dirinya dan Hatta tak berdaya lagi meski kemudian keputusan ini direvisi dengan menambahkan nama-nama dari kelompok politik lainnya. Dan, akhir tragisnya, Tan malah terbunuh di bawah Republik yang mereka ampu.

Mevlana Kaisya Daffa (@stasiun_buku_lenteng)

Dari Pemberontak Menjadi Pahlawan Nasional
MOHAMMAD NATSIR DAN PERJUANGAN POLITIK DI INDONESIA
WALUYO
Ombak, 2009. 160 hlm
Kertas lembab, bekas kena air
Masih layak baca
Rp. 50.000
#jualbuku #biografitokoh #mohammadnatsir #pahlawan #masyumi #sejarahindonesia #bukubagus #bukulangka

Muhammad Shofa As-Syadzili (@shofa_assyadzili)

Penasaran dengan isi buku ini. Buku yang membahas prihal partai Islam yang menjadi martir karena palu godam kekuasaan. Menarik membaca ulasan dari Sarjana Prancis dalam buku ini. Cc @mizanstore @penerbitmizan @wacanamizan @mizanmediautama #partai #partaimasjumi #partaimasjumiantaragodaandemokrasidanislamintegral #masyumi #bakornaslapmi #bakornaslapmipbhmi #lapmi #lapmipbhmi #lapmikeren #koranhmi #hmicerdasberkualitas #rémymadinier #prancis #france

Sekilas Sejarah (@sekilassejarah)

Selebaran yang diterbitkan PKI dan Masyumi menjelang pemilihan umum pertama tahun 1955.

Kerennya boleh saling menuding, dan ladang pertarungan ideologi 😎

Lucunya PKI juga turut melaknat PSI yang notabennya sama2 berhaluan kiri 😂

#sejarah #masyumi #pki #komunis #kiri #psi #pemilu #partai #partainasdem #nasdem #perindo #jokowi #sekilassejarah

Jambi tempo doeloe (@jambidoeloe)

Pada tahun 1946, Partai Masyumi di Jambi berdiri dibawah pimpinan H.MO Bafadhal. Partai ini juga berperan besar dalam pembentukan Hizbullah yang ada di jambi (badan pembela Negara terhadap agresi Belanda II). Mereka terdiri dari anggota Masyumi, tenaga pengajar dan alumni dari madrasah Al-Khairiyah.

Dalam perkembangannya, menjelang pemilu 1955, partai Masyumi di Jambi bermarkas di Kuala Tungkal. Peranan dalam perjuangan kemerdekaan yg dilakukan partai ini, memberikan respon yang baik masyarakat Jambi. Maka tidak mengherankan pada Hasil penghitungan suara Pemilu 1955 menunjukkan bahwa Masyumi mendapatkan suara yang signifikan dalam percaturan politik pada masa itu.Masyumi menjadi partai Islam terkuat, dengan menguasai 20,9 persen suara dan menang di 10 dari 15 daerah pemilihan, termasuk Jakarta Raya, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Tengah (TERMASUK JAMBI), Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara Selatan, dan Maluku.

Keterang poto : Markas Partai Masyumi di Kuala Tungkal, diambil pada tahun 1952.
Sumber poto: PHI Kuala Tungkal Tempo Dulu.

#masyumi #partaimasyumi #sejarahjambi #jambidoeloe #kualatungkal

Misbahul Hayat FH (@misbahulhf)

Saya bukan matahari yang bisa menyinari sampai ujung neptunus sana, tapi saya Misbah (lampu) yang setidaknya bisa menyinari orang-orang di sekeliling saya
#latepost
#10
#november
#2017
#haripahlawan
#TNI
#PNI
#masyumi
#PKI
#ahmadyani
#mtharyono
#dipandjaitan
#ahnasution #bungtomo #pierretandean
More...