Ahok Lovers (@forever_ahok) [similar]

AHOK DJAROT LOVERS. ANTI HOAX. Hastag #saveahok #kamiahok #tetapahok

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Satpol PP Turunkan Spanduk 'Kebangkitan Pribumi Muslim' di Menteng

Cici Marlina Rahayu - detikNews

Jakarta - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menurunkan sebuah spanduk yang bertulisan 'Kebangkitan Pribumi Muslim' di Menteng, Jakarta Pusat. Spanduk ini membentang di Jalan Raya Menteng Nomor 58.

Berdasarkan pantauan detikcom di Jalan Raya Menteng, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (18/10/2017), sekitar pukul 14.00 WIB, spanduk tersebut masih membentang. Namun, saat detikcom melihat kembali pukul 14.35 WIB, spanduk tersebut sudah diturunkan oleh petugas Satpol PP.

Spanduk berukuran 10 x 2 meter tersebut berwarna dominan putih dengan warna merah menjadi garis di pinggir spanduk. Dalam spanduk, ada tulisan 'Kebangkitan Pribumi Muslim' berwarna hitam.

Selain itu, dalam spanduk tersebut terdapat foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Kasi PPNS dan Penindakan Satpol PP Jakarta Pusat Santoso mengatakan pencopotan spanduk itu bertujuan agar tidak menimbulkan polemik dan pemahaman berbeda di tengah masyarakat. "Ya tujuannya agar perihal polemik pribumi ini sudah cukup. Karena kalau spanduk tersebut dibiarkan tetap ada, dikhawatirkan akan menimbulkan pemahaman yang berbeda. Jadi akhirnya kami pihak pemerintah, Satpol PP dalam hal ini beserta kepolisian menyampaikan kepada pihak pemasang agar itu diturunkan," kata Santoso saat ditemui di lokasi.

Santoso mengatakan pihak pemasang juga setuju terkait penurunan spanduk ini. Santoso juga mengimbau masyarakat dapat menjaga suasana Jakarta yang kondusif. "Pihak pemasang menerima, kita turunkan, kita lipat dan kita serahkan kembali," ujarnya. "Bahwa gubernur kan sudah menyampaikan konteks yang dimaksud pribumi dalam konteksnya menyampaikan pada zaman Belanda. Agar dipahami masyarakat semuanya, jangan di luar dari konteks itu. Mari sama-sama kita menjaga suasana Jakarta aman, tertib, dan kondusif," imbuhnya.

#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot #basukitjahajapurnama

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Sampai Kapan Anies Bungkam soal Program dan Reklamasi?

Oleh Delvira Chaerani Hutabarat pada 18 Okt 2017, 13:52 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan masih irit bicara. Ia belum mau mengungkap rencana eksekusi program, termasuk janji menolak reklamasi.
Hal serupa dilakukan Anies sebelum resmi dilantik menjadi Gubernur DKI. Kini, Anies masih bergeming meski telah resmi menduduki kursi DKI 1. "(Reklamasi) nanti ya. Jadi begini kita semua ada satu agenda yang harus dituntaskan dulu, yaitu sidang paripurna istimewa di DPRD," kata Anies di Balai Kota Jakarta, Rabu (18/10/2017).
Ia menegaskan tahapan realisasi semua janji sudah direncanakan. Hanya saja, Mantan Menteri Pendidikan ingin menghormati perwakilan rakyat. Anies ingin merekalah yang pertama kali mendapat gambaran utuh rencananya.

Anies mengatakan baru bisa bicara soal eksekusi janjinya setelah DPRD DKI menggelar paripurna istimewa. Menurut dia hal itu merupakan etika politik.
"Sesudah sidang, baru kita mulai langkah. Sekarang kita masih menunggu," ujarnya
Selain tutup mulut soal reklamasi, Anies juga enggan bicara soal langkah penutupan Alexis dan pencegahan banjir Jakarta. Dia menjanjikan langsung bekerja bila Paripurna Istimewa sudah terlaksana.

Paripurna Istimewa

Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, seharusnya dilanjutkan dengan sidang paripurna istimewa DPRD DKI, dengan agenda mendengar pidato politik pertama dan visi-misi Anies-Sandi.
Namun, hingga kini belum ada rapat Badan Musyarawah (Bamus), sebagai syarat terselenggaranya paripurna.
Sekretaris Fraksi PDIP DPRD DKI Gembong Warsono mengatakan, paripurna istimewa tidak wajib bagi gubernur dan wakil gubernur yang baru dilantik.
"Paripurna istimewa kan sunah. Artinya dilaksanakan boleh, tidak ya tidak apa-apa. Kan perbedaan pelantikan," kata Gembong di Gedung DPRD DKI, Rabu (18/10/2017).
"Kalau Jokowi-Ahok dilantik di paripurna istimewa, yang melantik Mendagri atas nama Presiden. Sekarang kan dilantik langsung oleh Presiden," dia melanjutkan.

#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Anies Baswedan Resmi Dipolisikan Terkait Pidato 'Pribumi'

Martahan Sohuturon , CNN Indonesia

Selasa, 17/10/2017 21:47

Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan resmi dilaporkan ke Bareskrim Polri terkait dugaan pidana diskriminatif ras dan etnis terkait pengunaan kata 'pribumi' saat pidato perdananya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (16/10) malam.

Laporan ini dilakukan oleh seorang inisiator Gerakan Pancasila Jack Boyd Lapian dengan didampingi oleh organisasi sayap PDI Perjuangan, Banteng Muda Indonesia.
Laporan ini diterima polisi Laporan Polisi Nomor: LP/1072/X/2017/Bareskrim. Dalam laporan itu Anies dilaporkan karena dugaan tindak pidana diskriminatif ras dan etnis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Huruf B ke-1 dan 2 dan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. "Kami lakukan laporan polisi terkait adanya dugaan tindak pidana diskriminatif ras dan etnis yang diduga dilakukan oleh Gubernur DKI terpilih saat sesi acara gubernur di Pemprov DKI Jakarta. Banteng Muda Indonesia sebagai saksi," kata kata kuasa hukum pelapor, Rudi Kabunang di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta, Selasa (17/10). Jack mengatakan, dirinya melaporkan karena kata 'pribumi' yang dilontarkan Anies diskriminatif. Menurut Jack, pernyataan Anies justru memecah belah Pancasila. "Pribumi yang mana? Pribumi Arab, Cina, siapa? Karena saya lihat ini memecah belah Pancasila. Pada Pancasila tak ada lagi apa bahasamu, apa ras, semua menjadi satu," ucap Jack.

Terkait hal itu, Banteng Muda Indonesia sebelumnya menilai, ada unsur dugaan tindak pidana dalam pemilihan diksi 'pribumi' yang dilontarkan Anies saat pidato perdananya di Balai Kota DKI Jakarta. Penggunaan kata pribumi dan nonpribumi telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 2008 serta dilarang berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1998.

#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot #basukitjahajapurnama

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Kalo gubernur baru ngomong istilah pribumi, harusnya dia sadar nggak ada pribumi asli. Kita semua pendatang di tanah Indonesia, karena nenek moyang kita semuanya imigran.
Dan kalau masih juga sebut-sebut istilah pribumi, mau tanya dong, sejak kapan keturunan arab disebut pribumi? Sejak zaman kolonial Belanda pun keturunan arab NGGAK digolongkan sebagai pribumi.
Jadi dia pun bukan termasuk pribumi.

Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Karena meskipun berbeda-beda, tapi tetap satu.
Tapi sayangnya mungkin nggak semua orang paham arti Bhinneka Tunggal Ika.

#NKRIhargamati #bhinnekatunggalika #berbedabedatapisatu
#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot #basukitjahajapurnama

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Faktanya, Semua Orang Indonesia "Imigran". Tidak Ada yang Pribumi.

Selasa, 17 Oktober 2017 | 07:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com –- Di Indonesia, ada beragam jenis manusia, mulai dari Jawa yang keling, Sunda yang putih, Tionghoa yang sipit, sampai Papua yang hitam. Lalu, siapa sebenarnya pribumi?

Peneliti Eijkman Institute Profesor Herawati mengatakan, perbedaan fisik diakibatkan oleh adanya pencampuran genetik yang terjadi di tubuh manusia. Peristiwa ini berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu dari sejumlah gelombang migrasi.

Gelombang migrasi pertama terjadi sekitar 60.000 tahun lalu. Bermula dari Afrika, manusia menyebar ke berbagai daerah. Saat itu, kepulauan yang kita lihat di peta Indonesia belum terbentuk.

Kalimantan, Jawa, dan Sumatera masih menjadi satu dataran luas yang disebut Sundaland dengan luas sekitar 1.800.000 Km. Kemudian, Wallacea menjadi daerah sendiri yang kini bisa dikenali dengan wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Sementara itu, Papua masih satu daratan dengan Australia.

Gelombang migrasi kedua terjadi sekitar 30.000 tahun yang lalu dengan datangnya orang-orang Austro-asiatik. Di antara lain mereka berasal dari Vietnam dan Yunan. “Kemudian bercampur dengan yang (gelombang) pertama kan atau yang pertama tadi sudah jalan terus ke timur sampai ke Papua,” kata Herawati dalam acara Wallacea Week 2017 di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (16/10/2017). Gelombang migrasi ketiga datang dari Formosa atau Taiwan sekitar 6.000-5.000 tahun yang lalu. Meski datang terakhir, Herawati berkata bahwa orang-orang Formosa juga turut berpengaruh terhadap bahasa astronesia yang sekarang digunakan.

Meski demikian, pencampuran genetika tak berhenti sampai di situ. Diapit oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, Indonesia yang merupakan pusat perdagangan dunia memungkinkan percampuran genetik terjadi lebih banyak. “Jadi ketika DNA seseorang dites, nanti bisa didapatkan ada China, India, dan Eropa. Kalau Minang kita sudah periksa, ada Eropanya karena itu kawasan maritim,” kata Herawati.

#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot

Ahok Lovers (@forever_ahok)

ANDA PRIBUMI, PAK GUBERNUR ?

Saya penasaran dengan kata "Pribumi" gara-gara seorang Gubernur yang baru dilantik menyinggung kata-kata "Saatnya Pribumi jadi tuan rumah di negeri sendiri".. Wahai Mr Baswedan yang terhormat, setelah saya baca di Wikipedia, ternyata keturunan Arab pun tidak dikelompokkan dalam wilayah Pribumi, sebuah sebutan yang dulu sangat menghina di zaman penjajahan.

Saya jadi ingin bertanya, benarkah anda dulu mantan Menteri Pendidikan?

Denny Siregar

Anies: Kini Saatnya Pribumi Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews

Jakarta - Anies Baswedan menyampaikan pidato politik perdananya setelah dilantik sebagai Gubernur DKI. Di hadapan para pendukungnya, Anies berbicara soal kolonialisme masa lalu di Jakarta . "Jakarta ini satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan kolonialisme dari dekat, penjajahan di depan mata, selama ratusan tahun. Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh tapi di Jakarta bagi orang Jakarta yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari hari," ujar Anies dalam acara Selamatan Jakarta yang digelar di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (16/10/2017). Anies pun berorasi dan berbicara soal perjuangan pribumi melawan kolonialisme. Menurutnya, semua warga pribumi harus mendapat kesejahteraan. "Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ucapnya.

Untuk menguatkan pernyataannya, Anies beberapa kali memberi perumpamaan dengan peribahasa. Termasuk sebuah peribahasa Madura. "Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. 'etèk sè atellor ajâm sè ngèremmè', itik yang bertelur ayam yang mengerami," kata Anies. "Kita yang bekerja keras untuk merebut kemerdekaan. Kita yang bekerja keras untuk mengusir kolonialisme. Kita semua harus merasakan manfaat kemerdekaan di ibu kota ini," sambung gubernur yang diusung Gerindra-PKS itu.

Seperti diketahui, Anies dan Sandiaga Uno baru saja dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Gubernur-Wagub DKI. Keduanya akan menjadi pimpinan Jakarta pada periode 2017-2022.

#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #ahokdjarot

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Mimin kangen banget ama Pak Ahok @basukibtp 😢
Sehat selalu ya Pak... 💜💜💜 Kangen lihat senyum Pak Ahok, kangen lihat Pak Ahok bercanda, kangen lihat Bapak Ahok ngomelin bawahannya yang nggak becus kerja.
Kangen lihat beliau nongol di TV, kangen lihat ketegasan beliau, kangen lihat beliau memaparkan ide-ide cemerlangnya dalam membangun Jakarta. Pokoknya kangen sosok Pak Ahok yang penuh semangat dan tegas juga cerdas dan apa adanya. We love you so much Pak Ahok 💜💜💜💜 #badjaforever #kamibadja #kamitetapbadja #basukidjarotselamanya
#guebadja #kitagaklupa
#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot #basukitjahajapurnama

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Pak Ahok @basukibtp dan Pak Djarot @djarotsaifulhidayat adalah mantan terindah kami warga Jakarta. Apa daya kami dipaksa putus 😭😭😭
Untuk Anies Sandi, janji adalah utang. Kami warga Jakarta akan menunggu kalian merealisasikan janji-janji kampanye kalian.

#badjaforever #kamibadja #kamitetapbadja #basukidjarotselamanya
#guebadja #kitagaklupa
#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot #basukitjahajapurnama

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Di Era Ahok, Rute Transjakarta Meluas hingga Pelosok Jakarta

Jumat, 13 Oktober 2017 | 10:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak tahun 2015, rute layanan bus transjakarta diperluas. Layanan bus yang tadinya hanya beroperasi di jalan-jalan utama di Kota Jakarta itu kini sudah melayani penumpang ke berbagai pelosok Jakarta, bahkan hingga ke wilayah kota-kota penyangga, seperti ke Bekasi, Depok dan Tangerang.
Jalan-jalan yang dilintasi pun tak lagi tergantung dengan adanya busway atau tidak. Sehingga saat ini, rute-rute yang dilayani bus transjakarta terbagi dua, yakni BRT (bus rapid transit) dan non BRT.
Rute BRT adalah rute yang operasionalnya melintasi busway, sedangkan non BRT adalah rute yang tidak melintasi jalur khusus tersebut.

Pada awal merealisasikan kebijakan ini, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meyakini, memperluas layanan transjakarta bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor.
Sebab ia yakin pengguna motor akan lebih memilih naik bus yang nyaman dan murah, ketimbang membawa kendaraan sendiri. Sehingga kemacetan bisa diminimalisir.

Saat beberapa tahun terakhir sampai dengan saat ini, tarif layanan bus transjakarta adalah sebesar Rp 3.500. Tarif ini berlaku sama untuk jarak jauh atau dekat. Dan dengan tarif ini pula, penumpang dapat berpindah rute tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan. "Karena orang pasti pada mikir, ngapain saya capek-capek naik motor, bayar bensin Rp 7.000. Mending motor saya titipin lalu saya naik bus dari Tangerang atau Bekasi," ujar Ahok di Balai Kota DKI, Selasa (22/12/2015). Tidak hanya sekedar memperluas rute, Ahok juga mengajak agar para operator angkutan umum di Jakarta bergabung di bawah naungan PT Transportasi Jakarta. Tentunya dengan syarat menyediakan armada yang memenuhi standar.
Sebab dengan bergabung dengan PT Transjakarta, Ahok menjamin operator angkutan dan para sopir akan mendapat kepastian pendapatan. Pendapatan nantinya akan dihitung berdasarkan jarak kilometer yang ditempuh dan bukan lagi dari jumlah penumpang.
(Bersambung ke kolom komentar)

#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Repost from @save.ahok

Terima kasih Pak Djarot @djarotsaifulhidayat sudah menjadi teman setia Pak Ahok @basukibtp dalam suka dan duka. Terima kasih Pak Djarot telah bekerja keras untuk kami warga DKI Jakarta untuk melanjutkan perjuangan Pak Ahok yang belum selesai.
Sukses selalu ya untuk Bapak dan keluarga Bapak... 🙏🙏
Bapak dan Pak Ahok adalah gubernur terbaik kami warga Jakarta 💜💜💜💜💜💜 #badjaforever #kamibadja #kamitetapbadja #basukidjarotselamanya
#guebadja #kitagaklupa
#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot #basukitjahajapurnama

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Pak Ahok @basukibtp dan Pak Djarot @djarotsaifulhidayat , kami semua mengucapkan banyak terima kasih atas kerja keras dan pengabdian bapak-bapak untuk kami warga DKI JAKARTA🙏🙏 Bapak berdua seperti orang tua kami yang selalu berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi kami semua. Bapak berdua adalah gubernur TERBAIK yang pernah dimiliki oleh warga Jakarta. Bapak berdua adalah JUARA dan tetap menjadi nomor satu di hati kami semua👍👍💜💜💜💜💜💜💜 #badjaforever #kamibadja #kamitetapbadja #guebadja #guetetapbadja #kitagaklupa
#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot #basukitjahajapurnama

Ahok Lovers (@forever_ahok)

''Ahok, Meskipun Masih di Penjara, Tetap Nomor Satu'' Kamis, 12 Oktober 2017 13:52 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo paling diunggulkan menjadi calon wakil presiden bagi Joko Widodo pada Pemilu 2019.

Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada 17-24 September 2017.

Pada survei ini, responden ditanya tentang siapa yang paling pantas mendampingi Jokowi selaku presiden petahana pada Pemilu 2019.

Ada 16 nama calon wakil yang diberikan sebagai opsi. Ahok mendapatkan 16 persen suara responden, paling tinggi di antara nama-nama lain dalam survei itu.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai bahwa tingginya elektabilitas Ahok itu tidak lepas dari pengalaman Jokowi dan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012-2014.

Menurut Burhan, masih banyak masyarakat yang ingin melihat duet itu terjadi di skala nasional meskipun Ahok menjadi terpidana kasus penistaan agama. "Ahok, meskipun masih di penjara, tetap nomor satu," kata Burhanuddin saat merilis hasil survei di kantornya, di Jakarta, Rabu (11/10/2017). Adapun Gatot berada di tempat kedua dengan angka 10 persen. Burhanuddin menduga, tingginya elektabilitas Gatot sebagai cawapres Jokowi tidak terlepas dari manuvernya sebagai Panglima TNI belakangan ini. "Pak Gatot banyak manuvernya untuk naikkan awareness, supaya dikenal," ujar Burhanuddin.

Di bawah kedua tokoh itu, ada pula Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dengan 8 persen dukungan responden, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (7 persen), Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (5 persen), Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian (4 persen), mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (3 persen). #saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot #basukitjahajapurnama

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Survei Indikator: Ahok dan Gatot Paling Diunggulkan Jadi Cawapres Jokowi

Rabu, 11 Oktober 2017 | 23:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo paling diunggulkan menjadi calon wakil presiden bagi Joko Widodo pada Pemilu 2019.

Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia pada 17-24 September 2017. Pada survei ini, responden ditanya tentang siapa yang paling pantas mendampingi Jokowi selaku presiden petahana pada Pemilu 2019.

Ada 16 nama calon wakil yang diberikan sebagai opsi. Ahok mendapatkan 16 persen suara responden, paling tinggi di antara nama-nama lain dalam survei itu.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai bahwa tingginya elektabilitas Ahok itu tidak lepas dari pengalaman Jokowi dan Ahok sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012-2014.

Menurut Burhan, masih banyak masyarakat yang ingin melihat duet itu terjadi di skala nasional meskipun Ahok menjadi terpidana kasus penistaan agama. "Ahok, meskipun masih di penjara, tetap nomor satu," kata Burhanuddin saat merilis hasil survei di kantornya, di Jakarta, Rabu (11/10/2017). Adapun Gatot berada di tempat kedua dengan angka 10 persen. Burhanuddin menduga, tingginya elektabilitas Gatot sebagai cawapres Jokowi tidak terlepas dari manuvernya sebagai Panglima TNI belakangan ini. "Pak Gatot banyak manuvernya untuk naikkan awareness, supaya dikenal," ujar Burhanuddin.

Di bawah kedua tokoh itu, ada pula Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dengan 8 persen dukungan responden, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (7 persen), Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (5 persen), Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian (4 persen), mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (3 persen).
(Bersambung ke kolom komentar)

#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot #basukitjahajapurnama

Ahok Lovers (@forever_ahok)

Ini 4 Janji Kampanye Anies-Sandi yang Sulit Terlaksana, Apa Saja?

Selasa, 10 Oktober 2017 11:57 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta (terpilih) Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta (terpilih) Sandiaga Uno memiliki banyak janji kampanye terhadap warga ibukota.

Janji-janji itu disampaikan dalam berbagai kesempatan saat kampanye Pilkada DKI 2017.

Janji Anies-Sandi itu disampaikan baik pada kampanye putaran pertama maupun yang muncul kemudian pada putaran kedua.

Keduanya kini segera menjabat secara resmi sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI.

Karena itu, mereka pun harus segera merealisasikan janji-janji tersebut atau bakal ditagih oleh warga Jakarta, baik yang memilih pasangan ini maupun tidak memilihnya.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia Rezza Haryadi mengingatkan Anies-Sandi untuk menepati janji-janjinya.

Terutama, janji yang menyangkut kepentingan warga Jakarta dan banyak berpengaruh terhadap elektabilitasnya. "Harus ditepati dong. Kalau tak ditepati ya harus bisa menjelaskan secara detail ke publik apa alasannya," kata Rezza kepada Wartakotalive.com, kemarin.

Anies-Sandi setidaknya mengungkapkan 11 janji yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan khalayak warga Jakarta.

Janji-janji itu ada yang sifatnya sangat umum atau sulit diukur, terukur, dan sulit dilaksanakan karena berbagai hal.

Dalam pandangan Wartakotalive.com, sejumlah janji akan sulit dilaksanakan karena akan menghadapi berbagai tantangan.

Tantangan pertama adalah Anies-Sandi akan berhadapan dengan pemerintah pusat.

Tantangan kedua, Anies-Sandi akan kesulitan mencari sumber pendanaan.

Tantangan ketiga, Anies-Sandi akan terbentur pada regulasi yang sudah ada maupun birokrasi yang berbelit-belit.
(Bersambung ke kolom komentar)

#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot #basukitjahajapurnama

Ahok Lovers (@forever_ahok)

"Dear Pak Ahok-Djarot, Saya dan Jakarta Sangat Kehilangan Kalian Berdua"

Selasa, 10 Oktober 2017 | 10:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah ucapan terima kasih dan pujian disampaikan warga Jakarta melalui karangan bunga yang dikirim ke Balai Kota DKI Jakarta.

Ucapan terima kasih dan pujian itu ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat yang telah memimpin Ibu Kota selama lima tahun terakhir.

Salah satu karangan bunga itu menunjukkan kesan seorang warga yang kehilangan kepemimpinan Ahok-Djarot di Jakarta. "Dear Pak Ahok & Pak Djarot, saya dan Jakarta sangat kehilangan kalian berdua. Terima kasih atas pengabdian Bapak kepada warga DKI selama ini," ujar warga bernama Jane Suryanto melalui karangan bunga yang dikirimnya.

Grup yang menamakan diri sebagai "Alumni Sanfransisco Group" juga mengucapkan terima kasih kepada Ahok-Djarot yang telah melayani Jakarta dengan baik. Ada pula yang menulis soal parameter kinerja pemimpin dengan adanya Ahok-Djarot. "Berkat 'BADJA' (Basuki-Djarot) kami punya parameter pemimpin yang benar2 bekerja, terima kasih," demikian salah satu isi karangan bunga tersebut.

Selain itu, ada warga yang berharap kepemimpinan Ahok-Djarot di Jakarta bisa "menular" ke daerah-daerah lainnya di Indonesia. "Ahok-Djarot, semoga teladan clean government dapat membudaya di Indonesia," kata seorang warga bernama Eka melalui karangan bunga tersebut. "Ahok-Djarot, prestasi dan karyamu yg luar biasa layak diukir dengan tinta emas," tulis Rus & Crish dalam karanga bunga yang dikirim.

Karangan bunga yang dikirim ke Balai Kota DKI Jakarta terus bertambah hingga Selasa (10/10/2017) pagi ini. Sejumlah karangan bunga tersebut dijajar di halaman Kompleks Balai Kota.

Kiriman karangan bunga itu terkait dengan akan berakhirnya masa jabatan Djarot pada Minggu, 15 Oktober 2017. Berakhirnya masa jabatan Djarot menjadi penanda berakhir pula periode pemerintahan 2012-2017 yang dimulai oleh Jokowi-Ahok itu.

#saveahok #kamiahok #tetapahok #ahok #temanahok #djarotsaifulhidayat #tetapahokdjarot #ahokdjarot #kamiahokdjarot #ahoklovers #basukibtp #basukidjarot
More...